Selasa, 13 Maret 2012

Contoh Artikel

PERILAKU SOSIAL EKONOMI PEDAGANG KAKI LIMA (PKL)DI LINGKUNGAN
KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI PADANG (UNP)
Oleh,
Insan KamalaSari[1]
Abstrak
Artikel ini akan membahas tentang perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima dengan spesifik di Universitas Negeri Padang. Adapun latar belakang perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima yang semakin meningkat di area kampus UNP, di  dalam pemanfaattan tempat untuk berjualan di kampus UNP dan kebersihan di area kampus UNP. Pada artikel ini penulis hanya membatasi 2 hal diantaranya perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima (PKL) dan analisis PKL terhadap pemanfaatan ruang dan kebersihan lingkungan kampus. Didalam pembahasan ini dapat di simpulkan bahwa Persaingan itu merupakan wujud dari rasa takut akan kehilangan tempat yang strategis dan takut para pembelinya atau pelanggan pergi. Sehingga terjadinya konflik atau sedikit perselisihan, lokasi merupakan hal yang sangat bernilai ekonomi bagi pedagang kaki lima walaupun  mereka sering digusur akan tetapi mereka tetap bertahan dengan kondisi semula, karena mrnganggap lokasi tersebut strategis. Untuk mengurangi terjadinya perselisihan antar sesama pedagang kaki lima hendaknya pihak kampus untuk mengambil kebijakan terhadap pedagang kaki lima yang ada di sekitar kampus UNP.

Pendahuluan
Tingginya angka pertumbuhan penduduk dan urbanisasi di dunia khususnya di Negara-negara berkembang, menimbulkan polemik permasalahan baru-baru itu dari aspek sosial, ekonomi, politik dan lain-lainnya, yang mana permasalahan ini tidak mudah untuk dicarikan pemecahannya. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup pada saat ini semakin sulit untuk dicukupi terutama pada masyarakat yang berada pada lapisan bawah atau yang berada pada garis kemiskinan. Hal ini akan lebih jelas lagi pada daerah perkotaan, sehingga mereka berupaya untuk mencari celah bergerak keluar dari desakan, kebutuhan ekonomi yang tidak tercukupi dengan cara memasuki perekonomian di sektor informal, yang tanpa didasari usaha sektor informal ini pun muncul dari kelas bawah dan pengangguran di perkotaan tumbuh dengan subur.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran justru diikuti dengan tumbuh kembangnya sektor informal . Hal ini menunjukkan bahwa sektor informal [2]mempunyai kemampuan bertahan yang lebih tinggi dalam menghadapi krisis ekonomi, yang mana sektor informal ini bersifat terbuka bagi siapa saja untuk memasukinya dan tanpa membutuhkan keterampilan khusus, salah satunya dari sector informal adalah pedagang kaki lima (PKL). Pedagang kaki lima dapat dikatakan sebagai sektor informal. Menurut (Damsar,1997;159), ciri-ciri sektor informal mencirikan antara lain ;
1.      Mudah memasukinya dalam arti keahlian, modal dan organisasi
2.      Beroperasi pola skala kecil
3.       Intensif tenaga kerja dalam produksi dan menggunakan teknologi sederhana
4.      Pasar tidak diatur dan kompetitif
5.      Tingkat produktifitas rendah
Berdasarkan cirri-ciri yang ditemukkan,menyatakan pedagang kaki lima merupakan salah satu sector informal. Dimana mencakup ciri-ciri sektor informal yang dalam teori-teori dalam sektor informal. Implikasi dari kehadiran pedagang kaki lima yang berjualan di kampus universitas negeri padang, tersebut muncul permasalah kekacauan terutama pada kebersihan universitas negeri padang.sampah dari hasil penjualan mereka berserakan di sekitar area unp. dan Permasalahan lainnya adalah pedagang kaki lima membuat munculnya masalah kekacauan, ketertiban, dan keamanan. Pejabat kota menganggap pelaku ekonomi informal terutama pedagang kaki lima (pkl) sebagai gangguan yang membuat kota menjadi kotor dan tidak rapi, mengganggu pejalan kaki, pembuangan sampah di sembarang tempat, kemacetan lalu lintas.
Pada hal lingkungan itu dikatakan sehat apabila adanya sistem pembuangan yang khusus (D.Dwidjoseputro,1990:13) seperti halnya penyediaan kotak sampah di area tempat para pedagang kaki lima berjualan.  

Fenomena pedagang kaki lima sebagai sektor informal, penulis dapat temui di lingkungan kampus termasuk di kampus Universitas Negeri Padang (UNP). Kebanyakan pedagang kaki lima di UNP adalah pedagang penjual makanan , Es, Dan asesoris meski di setiap sudut fakultas telah ada kafe. Namun, di kafe tersebut tidak mampu menyediakan makanan, es dan assesoris seperti apa yang dijual para pedagang kaki lima. Sehingga hal ini lah yang menyebabkan pedagang kaki lima memanfaatkan keadaan tersebut.

Awalnya tempat-tempat yang di jadikan lahan untuk berjualan tersebut telah ditentukan oleh kampus UNP yaitu, di belakang rektor,dan di area-area tertentu lainnya. Tetapi tempat tersebut kurang memadai dan terjadinya persaingan yang cukup ketat disitu, sehingga membuat para pedagang kaki lima mencoba mengoperasikan jajanannya ke tempat yang lebih terjangkau oleh mahasiswa dan kurangnya persaingan. 

Aturan yang dibuat oleh kampus UNP tersebut dilanggar oleh para pedagang kaki lima, dikarenakan kurangnya perhatian kampus terhadap permasalah tersebut dan tidak adanya sanksi yang tegas terhadap hal tersebut. Sehingga dengan mudahnya para pedagang kaki lima tersebut menempati tempat-tempat yang strategis, yang mudah di jangkau oleh pembeli.  Meskipun sekali-kali satpam mengatur para pedagang kaki lima tersebut agar terlihat rapi dan teratur. Namun, belum sempat sejam para pedagang kaki lima tersebut kembali ketempat mereka semula.

Pada penelitian ini penulis lebih menekankan pada aspek perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima dalam pemanfaattan tempat untuk berjualan di kampus UNP dan kebersihan di area kampus UNP. Alasan lain peneliti melakukan penelitian terhadap pedagang kaki lima di kampus UNP. Karena pedagang kaki lima di kampus UNP ini karena berbeda dengan pedagang yang ada di kampus-kampus lain.

Dikampus UBH juga dapat ditemui pedagang kaki lima, namun juga berbeda dengan pedagang kaki lima yang ada di UNP. Pedagang kaki lima yang berjualan di UBH tidak berjualan di dalam kampus dan juga tidak berdiri di setiap lahan fakultas, malahan pedagang kaki lima di UBH berjualan di luar gerbang kampus UBH dan tidak pernah terjadinya penggusuran.
Demikian pun dengan kampus UPI, disana pun para pedagang kaki lima, mereka hanya berjualan di luar kampus dan yang di dalam kampus hanyalah kafe. Aspek yang membedakan antara pedagang kaki lima di UNP dengan pedagang kaki lima di Universitas lain adlah ketersediaan tempat yang strategis untuk berjualan.  
Hal ini memicu pertanyaan bagi peneliti untuk melakukan penelitian terhadap keunikan  Pedagang kaki lima yang terdapat di Universitas negeri padang dan melakukan penelitian yang berkaitan dengan perilaku  sosial ekonomi pedagang kaki lima yang ada di sekitar lingkungan kampus universitas negeri padang.
Jadi penulis mengangakat topik ini untuk membahas Bagaimana perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima di lingkungan UNP dan pemanfaatan ruang untuk berjualan di kampus UNP.

A.    PeriLaku  Sosial Ekonomi Pedagang Kaki Lima (PKL)

a)      Perilaku antara sesama pedagang
Lokasi merupakan hal yang sangat bernilai ekonomi bagi pedagang kaki lima (pkl), walaupun mereka sangat sering digusur akan tetapi mereka tetap bertahan dengan posisi semula, karena menganggap lokasi tersebut strategis. Pedagang yang telah menempati ruang yang telah lama atau lebih dari satu tahun berada di kawasan tersebut. Dan akan terganggu dengan kehadiran pedagang baru, yang menempati lokasi yang sudah dianggap lokasi sendiri. Peraturan tempat yang dipakai untuk para pedagang kaki lima tidak ada pengaturan secara resmi, namun di mana banyak konsumen di tempat itu berlaku tata aturan ini ditujukan karena tujuan pedagang adalah sama-sama mencari pembeli.
Meski ada peraturan antara konsumen atau pedagang kaki lima tersebutyang sama-sama mencari pembeli, bukan berarti tidak ada konflik di kalangan pedagang kaki lima tersebut (pkl). Bahkan untuk saat ini konflik yang sering dihadapi oleh pedagang kaki lima tersebut adalah perebutan tempat yang strategis, terutama di sepanjang jalur kampus, yang terdapat pedagang kaki lima , dari 5 pedagang yang penulis wawancarai yang berada di dekat taman FIS terdapat satu hal nya penuturan salah seorang pedagang es, yang berjualan di dekat tamad FIS yang, akrab di panggil joni, mengatakan bahwa :
“saya agak sedikit tersinggung dikala seorang pedagang es yang menggunakan sepeda yang kadang pas waktu istirahat dia juga berdiri di area yang sama, dan ini membuat pendapatan saya berkurang.”
Demikian lah penuturan salah seorang seorang pedagang es tersebut, namun untungnya tidak sempat terjadi perkelahian antara sesama pedagang es tersebut. Dan hal yang dilakukan oleh pedagang tersebut masih dikategorikan persaingan secara sehat.
            Persaingan itu merupakan wujud dari rasa takut akan kehilangan tempat yang strategis dan takut para pembelinya atau pelanggan pergi. Sehingga terjadinya konflik atau sedikit perselisihan. Meskipun pedagang kaki lima sama-sama bersaing dalam mencari pembeli namun, pedagang kaki lima juga harus tetap menjaga jarak agar tindak bentrok satu sama lain di tempat yang sama. Saling  memahami  dalam mengatur tempat sangat diperlukanbagi pedagang kaki lima agar dapt menghindari terjadinya konflik. Bahwa hal ini dipandang begitu penting untuk mewujudkan toleransi diantara sesama pedagang kaki lima yang ada di kampus UNP, dalam rangka memperoleh dan memanfaatkan ruang yang ada.
            Untuk yang menggunakan tempat sesama pedagang karena jarak yang ditempati oleh pedagang yang sejenis dagangannya sehingga tidak menguntungkan dalam pencarian pembeli. Dalam kenyataannya jarak yang di tempati oleh pedagang-pedagang itu memang berjauhan terutama dengan pedagang yang sejenis, seperti halnya sdi dekat pustaka pusat ada 2 buah pedagang sate, namun kenyataannya pedagang tersebut letaknya berjuhan.
b)      Perilaku Dalam Melayani Pembeli
Pedagang kaki lima secara individu berprilaku menggambarkan perilaku kelompoknya, pedagang kaki lima dalam berprilaku dilihat dengan hubungan mereka antara sesama pedagang dan pembeli. Dalam “perilaku nilai” pedagang kaki lima dalam menjual dagangan kepada pembeli dengan cara tersenyum. Tersenyum dalam artian kata ramah, ceria, menyapa, dekat dengan pembeli, dan para pedagang berusaha menawarkan dagangannya dengan bercerita, bergurau, memanggil dan menawarkan. Seperti salah seorang penjual assesoris yang berjualan di lingkungan kampus UNP di dekat taman FIS. Pedagang assesoris tersebut berusaha menawarkan dagangannya dengan ramah, sopan dan sesekali pedagang yang akrab di panggil si kamba ini bergurau dengan pembelinya. Sehingga tak heran jika banyak mahasiswa atau pembeli lainnya yang membeli barang dagangannya.
Dengan memberi sikap yang ramah terhadap pembeli tidak dengan cara nyapa atau hanya sekedar tesenyum berharap orang yang didatangi atau lewat akan membeli barang dagangan Yang dijual. Ramah ini diartikan bisa bercerita atau menanggapi apa yang dikatakan atau ditanyakan pembeli terutama ketika sedang berlangsung transaksi. Disamping cara tersebut pedagang kaki lima juga dapat meningkatkan kualitas dagangannya. 
Para pedagang berlomba-lomba meningkatkan kualitas dagangannya yang akan dijual ke pembeli. Dan juga berlomba dalam meningkatkan cara pelayanan pada setiap pelanggan atau pembeli. Keadaan ini dipicu oleh banyaknya pedagang yang menjual dagangannya dalam bentu samadi kampus UNP. Agar tidak kehilangan pelanggan atau pembeli cara yang tepat dilakukan adalah dengan meningkatkan kulitas dan cara pelayanan. Untuk meningkatkan penjualan dalam sehari-hari diperlikan strategi atau upaya-upaya yang harus dilakukan, melalui peningkatan kualitas dan palayanan upaya ini akan dikatakan berhasil apabila dagangan yang dijual habis dalam waktu yang telah di perkirakan.
B.     Analisis PKL terhadap pemanfaatan ruang dan kebersihan lingkungan kampus.

a.    Perilaku Memperoleh Ruang Dengan Pihak Kampus
Berangkat dari pendapat Polanyi yang dikutip oleh Damsar tentang pemanfaatan ruang sebagai fungsi ekonomi mengatakan, pemanfaatan penggunaan ruang pada setiap masyarakat (kelompok) nerbeda satu sama lainnya dalam cara. Namun, sama dalam prinsip yaitu pedagang di lokasi yang strategis. Pedagang kaki lima biasanya memilih lokasi strategis berdasarkan “naluri dagang “[3].
Lokasi merupakan hal yang sangat bernilai ekonomi bagi pedagang kaki lima walaupun  mereka sering digusur akan tetapi mereka tetap bertahan dengan kondisi semula, karena mrnganggap lokasi tersebut strategis. Pemberian tempat atau lokasi oleh pihak kampus kepada pedagang kaki lima merupakan bentuk kebijaksanaan kampus kepada pedagang kaki lima. Namun, terjadi pembersihan atau razia karena pedagang kaki lima di kampus melakukan tindakan lanjutan dengan melakukan pembersihan pedagang kaki lima. Kondisi ini terbentuk sebagai akibat untuk mempertahankan dan memperoleh ruang yang dianggap strategis. Pedagang kaki lima ingin memanfaatkan tempat yang strategis dikampus sebagai tempat untuk menjual dagangan mereka sedangkan pihak kampus untuk mempertahankan keindahan dan kerapian serta kenyamanan kampus.
Walau pun demikian pedagang kaki lima tetap berjualan dalam kampus karena menurut “naluri dagang “ mereka, kampus merupakan tempat yang strategis untuk berdagang. Mereka menganggap strategis karena banyak pembeli dengan istilah “ada gula ada semut “ pedagang kaki lima memanfaatkan ruang yang ada dikampus karena banyak mahasiswa yang akan membeli dagangan mereka.
b.          Perilaku Pedagang Terhadap Kebersihan Lingkungan Kampus
Ada hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannnya yang tidak hanya sesama manusia saja (D.Dwidjoseputro, 1990:10). Begitu hal nya dengan perdagangan kaki lima yang berjualan dikampus UNP. Adanya hubungan timbal balik antara pedagang kaki lima dengan lingkungan tempat mereka berjualan. Lingkungan sangat mempengaruhi dagangan yang mereka jualkan. Apabila dagangan yang mreka jual kotor maka para pembeli pun kurang minat untuk membelinya. 
Lingkungan yang bersih juga mempengaruhi penghasilan yang didapat oleh penjual. Padahal lingkungan itu dikatak sehat apabila ada sistem pembuangan khusus (D.Dwidjoseputro, 1990:13) seperti tempat pembuangan sampah atau kotak sampah. Seperti beberapa gambar yang terlihat akibat sampah makanan yang dijual oleh para pedagang kaki lima.
Gambar yang terlihat diatas merupakan tumpukan sampah dari makanan berplastik yang dijual oleh pedagang kaki lima di sekitar area perdagangan di dekat taman FIS. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran pedagang kaki lima untuk menyediakan kotak sampah sebagai tempat sistem pembungan yang khusus. Sehingga sampah itu berserakan dimana-mana. Terutama di tempat mereka berdagang, mahasiswa atau pembeli pun duduk-duduk di sekitar area perdagangan tersebut, apabila makanan yang mereka makan telah habis maka sampah tersebut di buang di sembarang tempat dikarenakan tidak adanya disediakan kotak sampah oleh para pedagang kaki lima tersebut.
Lama kelamaan sampah tersebut bertumpuk terutama di dalam selokan. Sehingga pada saat hujan turun air selokan tersumbat dan meluap kejalan. Dan hal ini lah yang dapat merusak pemandangan dan kenyamanan, belum lagi bau yang menyengat karena sampah berserakan dimana-mana dan ini juga lah yang menyebabkan  lingkungan kampus UNP menjadi tidak nyaman. Berarti tidak hanya tempat dan pelayanan saja tetapi lingkungan juga termasuk didalamnya dalam menunjang penghasialan pedagang.
Simpulan
 Dari uraian sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan yang berkaitan dengan perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima di lingkungan kampus UNP dalam memanfaatkan aspek ruang untuk berjualan dan kebersihan kampus terhadap adanya pedagang kaki lima.
Persaingan itu merupakan wujud dari rasa takut akan kehilangan tempat yang strategis dan takut para pembelinya atau pelanggan pergi. Sehingga terjadinya konflik atau sedikit perselisihan. Pedagang kaki lima dalam menjual dagangan kepada pembeli dengan cara tersenyum. Tersenyum dalam artian kata ramah, ceria, menyapa, dekat dengan pembeli, dan para pedagang berusaha menawarkan dagangannya dengan bercerita, bergurau, memanggil dan menawarkan. Dengan memberi sikap yang ramah terhadap pembeli dengan cara nyapa atau hanya sekedar tesenyum berharap orang yang didatangi atau lewat akan membeli barang dagangan Yang dijual.
Lokasi merupakan hal yang sangat bernilai ekonomi bagi pedagang kaki lima walaupun  mereka sering digusur akan tetapi mereka tetap bertahan dengan kondisi semula, karena mrnganggap lokasi tersebut strategis. Adanya hubungan timbal balik antara pedagang kaki lima dengan lingkungan tempat mereka berjualan. Lingkungan sangat mempengaruhi dagangan yang mereka jualkan. Apabila dagangan yang mreka jual kotor maka para pembeli pun kurang minat untuk membelinya.  Lingkungan yang bersih juga mempengaruhi penghasilan yang didapat oleh penjual.
Rekomendasi
Dari kesimpulan diatas perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima di lingkungan kampus universitas negeri padang, maka saran yang perlu di sebagai bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang terkait, dalam hal ini kampus UNP berkaitan dengan masalah pedagang kaki lima dalam pemanfaattan ruang dan kebersihan lingkungan dalam menjual barang dagangannya.
1.      Disarankan kepada pihak kampus untuk mengambil kebijakan terhadap pedagang kaki lima yang ada di sekitar kampus UNP.
2.      Hendaknya pedagang kaki lima yang diberi izin oleh pihak kampus, harusnya menjaga kebersihan kampus UNP.

Daftar Pustaka
Damsar. 1997.”Sosiologi Ekonomi”,Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada.
Lew J, Meleong.1997.”Metodologi Penelitian Kualitatif”,Bandung:FPE padjajaran.
Lipsey G,Richard.1990.”Pengantar ilmu Ekonomi”,Jakarta:PT. Rineka Cipta
Didik J,Rachoni.1994.”Ekonomi Informal Perkotaan”,Jakarta:PT. Pustaka LP3ES Indonesia
Emil Salim.1995.”Lingkungan Hidup Dan Pembangunan”,Jakarta:PT. Mutiara Sumber Mulya
Dwidjoseputro D.1990.”Ekologi Manusia dengan Lingkungannya”,Jakarta:PT. Glora Aksara
Marsal, Zul.2009.”Peranan satuan polisi pramong pradja dan satuan koordinasi ketertiban dan keamanan kota (SK4) dalam penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kota padang”.Skripsi.Tidak diterbitkan.Padang:FIS UNP



[1] 55336/2010
Pendidikan Sosiologi-Antropologi
[2] Sektor informal merupakan suatu pemberdayaan khususnya pedagang kaki lima sebagai bagian dari masyarakat yang membutuhkan penanganan tersendiri dari pihak pemerintahyang berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya yang mereka miliki.
[3] Naluri dagang adalah semacam dorongan alamiaah dari dalam diri manusia untuk memikirkan serta menyatakan suatu tindakan, seperti halnya berdagang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar