Selasa, 13 Maret 2012

Contoh Artikel

PERILAKU SOSIAL EKONOMI PEDAGANG KAKI LIMA (PKL)DI LINGKUNGAN
KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI PADANG (UNP)
Oleh,
Insan KamalaSari[1]
Abstrak
Artikel ini akan membahas tentang perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima dengan spesifik di Universitas Negeri Padang. Adapun latar belakang perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima yang semakin meningkat di area kampus UNP, di  dalam pemanfaattan tempat untuk berjualan di kampus UNP dan kebersihan di area kampus UNP. Pada artikel ini penulis hanya membatasi 2 hal diantaranya perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima (PKL) dan analisis PKL terhadap pemanfaatan ruang dan kebersihan lingkungan kampus. Didalam pembahasan ini dapat di simpulkan bahwa Persaingan itu merupakan wujud dari rasa takut akan kehilangan tempat yang strategis dan takut para pembelinya atau pelanggan pergi. Sehingga terjadinya konflik atau sedikit perselisihan, lokasi merupakan hal yang sangat bernilai ekonomi bagi pedagang kaki lima walaupun  mereka sering digusur akan tetapi mereka tetap bertahan dengan kondisi semula, karena mrnganggap lokasi tersebut strategis. Untuk mengurangi terjadinya perselisihan antar sesama pedagang kaki lima hendaknya pihak kampus untuk mengambil kebijakan terhadap pedagang kaki lima yang ada di sekitar kampus UNP.

Pendahuluan
Tingginya angka pertumbuhan penduduk dan urbanisasi di dunia khususnya di Negara-negara berkembang, menimbulkan polemik permasalahan baru-baru itu dari aspek sosial, ekonomi, politik dan lain-lainnya, yang mana permasalahan ini tidak mudah untuk dicarikan pemecahannya. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup pada saat ini semakin sulit untuk dicukupi terutama pada masyarakat yang berada pada lapisan bawah atau yang berada pada garis kemiskinan. Hal ini akan lebih jelas lagi pada daerah perkotaan, sehingga mereka berupaya untuk mencari celah bergerak keluar dari desakan, kebutuhan ekonomi yang tidak tercukupi dengan cara memasuki perekonomian di sektor informal, yang tanpa didasari usaha sektor informal ini pun muncul dari kelas bawah dan pengangguran di perkotaan tumbuh dengan subur.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran justru diikuti dengan tumbuh kembangnya sektor informal . Hal ini menunjukkan bahwa sektor informal [2]mempunyai kemampuan bertahan yang lebih tinggi dalam menghadapi krisis ekonomi, yang mana sektor informal ini bersifat terbuka bagi siapa saja untuk memasukinya dan tanpa membutuhkan keterampilan khusus, salah satunya dari sector informal adalah pedagang kaki lima (PKL). Pedagang kaki lima dapat dikatakan sebagai sektor informal. Menurut (Damsar,1997;159), ciri-ciri sektor informal mencirikan antara lain ;
1.      Mudah memasukinya dalam arti keahlian, modal dan organisasi
2.      Beroperasi pola skala kecil
3.       Intensif tenaga kerja dalam produksi dan menggunakan teknologi sederhana
4.      Pasar tidak diatur dan kompetitif
5.      Tingkat produktifitas rendah
Berdasarkan cirri-ciri yang ditemukkan,menyatakan pedagang kaki lima merupakan salah satu sector informal. Dimana mencakup ciri-ciri sektor informal yang dalam teori-teori dalam sektor informal. Implikasi dari kehadiran pedagang kaki lima yang berjualan di kampus universitas negeri padang, tersebut muncul permasalah kekacauan terutama pada kebersihan universitas negeri padang.sampah dari hasil penjualan mereka berserakan di sekitar area unp. dan Permasalahan lainnya adalah pedagang kaki lima membuat munculnya masalah kekacauan, ketertiban, dan keamanan. Pejabat kota menganggap pelaku ekonomi informal terutama pedagang kaki lima (pkl) sebagai gangguan yang membuat kota menjadi kotor dan tidak rapi, mengganggu pejalan kaki, pembuangan sampah di sembarang tempat, kemacetan lalu lintas.
Pada hal lingkungan itu dikatakan sehat apabila adanya sistem pembuangan yang khusus (D.Dwidjoseputro,1990:13) seperti halnya penyediaan kotak sampah di area tempat para pedagang kaki lima berjualan.  

Fenomena pedagang kaki lima sebagai sektor informal, penulis dapat temui di lingkungan kampus termasuk di kampus Universitas Negeri Padang (UNP). Kebanyakan pedagang kaki lima di UNP adalah pedagang penjual makanan , Es, Dan asesoris meski di setiap sudut fakultas telah ada kafe. Namun, di kafe tersebut tidak mampu menyediakan makanan, es dan assesoris seperti apa yang dijual para pedagang kaki lima. Sehingga hal ini lah yang menyebabkan pedagang kaki lima memanfaatkan keadaan tersebut.

Awalnya tempat-tempat yang di jadikan lahan untuk berjualan tersebut telah ditentukan oleh kampus UNP yaitu, di belakang rektor,dan di area-area tertentu lainnya. Tetapi tempat tersebut kurang memadai dan terjadinya persaingan yang cukup ketat disitu, sehingga membuat para pedagang kaki lima mencoba mengoperasikan jajanannya ke tempat yang lebih terjangkau oleh mahasiswa dan kurangnya persaingan. 

Aturan yang dibuat oleh kampus UNP tersebut dilanggar oleh para pedagang kaki lima, dikarenakan kurangnya perhatian kampus terhadap permasalah tersebut dan tidak adanya sanksi yang tegas terhadap hal tersebut. Sehingga dengan mudahnya para pedagang kaki lima tersebut menempati tempat-tempat yang strategis, yang mudah di jangkau oleh pembeli.  Meskipun sekali-kali satpam mengatur para pedagang kaki lima tersebut agar terlihat rapi dan teratur. Namun, belum sempat sejam para pedagang kaki lima tersebut kembali ketempat mereka semula.

Pada penelitian ini penulis lebih menekankan pada aspek perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima dalam pemanfaattan tempat untuk berjualan di kampus UNP dan kebersihan di area kampus UNP. Alasan lain peneliti melakukan penelitian terhadap pedagang kaki lima di kampus UNP. Karena pedagang kaki lima di kampus UNP ini karena berbeda dengan pedagang yang ada di kampus-kampus lain.

Dikampus UBH juga dapat ditemui pedagang kaki lima, namun juga berbeda dengan pedagang kaki lima yang ada di UNP. Pedagang kaki lima yang berjualan di UBH tidak berjualan di dalam kampus dan juga tidak berdiri di setiap lahan fakultas, malahan pedagang kaki lima di UBH berjualan di luar gerbang kampus UBH dan tidak pernah terjadinya penggusuran.
Demikian pun dengan kampus UPI, disana pun para pedagang kaki lima, mereka hanya berjualan di luar kampus dan yang di dalam kampus hanyalah kafe. Aspek yang membedakan antara pedagang kaki lima di UNP dengan pedagang kaki lima di Universitas lain adlah ketersediaan tempat yang strategis untuk berjualan.  
Hal ini memicu pertanyaan bagi peneliti untuk melakukan penelitian terhadap keunikan  Pedagang kaki lima yang terdapat di Universitas negeri padang dan melakukan penelitian yang berkaitan dengan perilaku  sosial ekonomi pedagang kaki lima yang ada di sekitar lingkungan kampus universitas negeri padang.
Jadi penulis mengangakat topik ini untuk membahas Bagaimana perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima di lingkungan UNP dan pemanfaatan ruang untuk berjualan di kampus UNP.

A.    PeriLaku  Sosial Ekonomi Pedagang Kaki Lima (PKL)

a)      Perilaku antara sesama pedagang
Lokasi merupakan hal yang sangat bernilai ekonomi bagi pedagang kaki lima (pkl), walaupun mereka sangat sering digusur akan tetapi mereka tetap bertahan dengan posisi semula, karena menganggap lokasi tersebut strategis. Pedagang yang telah menempati ruang yang telah lama atau lebih dari satu tahun berada di kawasan tersebut. Dan akan terganggu dengan kehadiran pedagang baru, yang menempati lokasi yang sudah dianggap lokasi sendiri. Peraturan tempat yang dipakai untuk para pedagang kaki lima tidak ada pengaturan secara resmi, namun di mana banyak konsumen di tempat itu berlaku tata aturan ini ditujukan karena tujuan pedagang adalah sama-sama mencari pembeli.
Meski ada peraturan antara konsumen atau pedagang kaki lima tersebutyang sama-sama mencari pembeli, bukan berarti tidak ada konflik di kalangan pedagang kaki lima tersebut (pkl). Bahkan untuk saat ini konflik yang sering dihadapi oleh pedagang kaki lima tersebut adalah perebutan tempat yang strategis, terutama di sepanjang jalur kampus, yang terdapat pedagang kaki lima , dari 5 pedagang yang penulis wawancarai yang berada di dekat taman FIS terdapat satu hal nya penuturan salah seorang pedagang es, yang berjualan di dekat tamad FIS yang, akrab di panggil joni, mengatakan bahwa :
“saya agak sedikit tersinggung dikala seorang pedagang es yang menggunakan sepeda yang kadang pas waktu istirahat dia juga berdiri di area yang sama, dan ini membuat pendapatan saya berkurang.”
Demikian lah penuturan salah seorang seorang pedagang es tersebut, namun untungnya tidak sempat terjadi perkelahian antara sesama pedagang es tersebut. Dan hal yang dilakukan oleh pedagang tersebut masih dikategorikan persaingan secara sehat.
            Persaingan itu merupakan wujud dari rasa takut akan kehilangan tempat yang strategis dan takut para pembelinya atau pelanggan pergi. Sehingga terjadinya konflik atau sedikit perselisihan. Meskipun pedagang kaki lima sama-sama bersaing dalam mencari pembeli namun, pedagang kaki lima juga harus tetap menjaga jarak agar tindak bentrok satu sama lain di tempat yang sama. Saling  memahami  dalam mengatur tempat sangat diperlukanbagi pedagang kaki lima agar dapt menghindari terjadinya konflik. Bahwa hal ini dipandang begitu penting untuk mewujudkan toleransi diantara sesama pedagang kaki lima yang ada di kampus UNP, dalam rangka memperoleh dan memanfaatkan ruang yang ada.
            Untuk yang menggunakan tempat sesama pedagang karena jarak yang ditempati oleh pedagang yang sejenis dagangannya sehingga tidak menguntungkan dalam pencarian pembeli. Dalam kenyataannya jarak yang di tempati oleh pedagang-pedagang itu memang berjauhan terutama dengan pedagang yang sejenis, seperti halnya sdi dekat pustaka pusat ada 2 buah pedagang sate, namun kenyataannya pedagang tersebut letaknya berjuhan.
b)      Perilaku Dalam Melayani Pembeli
Pedagang kaki lima secara individu berprilaku menggambarkan perilaku kelompoknya, pedagang kaki lima dalam berprilaku dilihat dengan hubungan mereka antara sesama pedagang dan pembeli. Dalam “perilaku nilai” pedagang kaki lima dalam menjual dagangan kepada pembeli dengan cara tersenyum. Tersenyum dalam artian kata ramah, ceria, menyapa, dekat dengan pembeli, dan para pedagang berusaha menawarkan dagangannya dengan bercerita, bergurau, memanggil dan menawarkan. Seperti salah seorang penjual assesoris yang berjualan di lingkungan kampus UNP di dekat taman FIS. Pedagang assesoris tersebut berusaha menawarkan dagangannya dengan ramah, sopan dan sesekali pedagang yang akrab di panggil si kamba ini bergurau dengan pembelinya. Sehingga tak heran jika banyak mahasiswa atau pembeli lainnya yang membeli barang dagangannya.
Dengan memberi sikap yang ramah terhadap pembeli tidak dengan cara nyapa atau hanya sekedar tesenyum berharap orang yang didatangi atau lewat akan membeli barang dagangan Yang dijual. Ramah ini diartikan bisa bercerita atau menanggapi apa yang dikatakan atau ditanyakan pembeli terutama ketika sedang berlangsung transaksi. Disamping cara tersebut pedagang kaki lima juga dapat meningkatkan kualitas dagangannya. 
Para pedagang berlomba-lomba meningkatkan kualitas dagangannya yang akan dijual ke pembeli. Dan juga berlomba dalam meningkatkan cara pelayanan pada setiap pelanggan atau pembeli. Keadaan ini dipicu oleh banyaknya pedagang yang menjual dagangannya dalam bentu samadi kampus UNP. Agar tidak kehilangan pelanggan atau pembeli cara yang tepat dilakukan adalah dengan meningkatkan kulitas dan cara pelayanan. Untuk meningkatkan penjualan dalam sehari-hari diperlikan strategi atau upaya-upaya yang harus dilakukan, melalui peningkatan kualitas dan palayanan upaya ini akan dikatakan berhasil apabila dagangan yang dijual habis dalam waktu yang telah di perkirakan.
B.     Analisis PKL terhadap pemanfaatan ruang dan kebersihan lingkungan kampus.

a.    Perilaku Memperoleh Ruang Dengan Pihak Kampus
Berangkat dari pendapat Polanyi yang dikutip oleh Damsar tentang pemanfaatan ruang sebagai fungsi ekonomi mengatakan, pemanfaatan penggunaan ruang pada setiap masyarakat (kelompok) nerbeda satu sama lainnya dalam cara. Namun, sama dalam prinsip yaitu pedagang di lokasi yang strategis. Pedagang kaki lima biasanya memilih lokasi strategis berdasarkan “naluri dagang “[3].
Lokasi merupakan hal yang sangat bernilai ekonomi bagi pedagang kaki lima walaupun  mereka sering digusur akan tetapi mereka tetap bertahan dengan kondisi semula, karena mrnganggap lokasi tersebut strategis. Pemberian tempat atau lokasi oleh pihak kampus kepada pedagang kaki lima merupakan bentuk kebijaksanaan kampus kepada pedagang kaki lima. Namun, terjadi pembersihan atau razia karena pedagang kaki lima di kampus melakukan tindakan lanjutan dengan melakukan pembersihan pedagang kaki lima. Kondisi ini terbentuk sebagai akibat untuk mempertahankan dan memperoleh ruang yang dianggap strategis. Pedagang kaki lima ingin memanfaatkan tempat yang strategis dikampus sebagai tempat untuk menjual dagangan mereka sedangkan pihak kampus untuk mempertahankan keindahan dan kerapian serta kenyamanan kampus.
Walau pun demikian pedagang kaki lima tetap berjualan dalam kampus karena menurut “naluri dagang “ mereka, kampus merupakan tempat yang strategis untuk berdagang. Mereka menganggap strategis karena banyak pembeli dengan istilah “ada gula ada semut “ pedagang kaki lima memanfaatkan ruang yang ada dikampus karena banyak mahasiswa yang akan membeli dagangan mereka.
b.          Perilaku Pedagang Terhadap Kebersihan Lingkungan Kampus
Ada hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannnya yang tidak hanya sesama manusia saja (D.Dwidjoseputro, 1990:10). Begitu hal nya dengan perdagangan kaki lima yang berjualan dikampus UNP. Adanya hubungan timbal balik antara pedagang kaki lima dengan lingkungan tempat mereka berjualan. Lingkungan sangat mempengaruhi dagangan yang mereka jualkan. Apabila dagangan yang mreka jual kotor maka para pembeli pun kurang minat untuk membelinya. 
Lingkungan yang bersih juga mempengaruhi penghasilan yang didapat oleh penjual. Padahal lingkungan itu dikatak sehat apabila ada sistem pembuangan khusus (D.Dwidjoseputro, 1990:13) seperti tempat pembuangan sampah atau kotak sampah. Seperti beberapa gambar yang terlihat akibat sampah makanan yang dijual oleh para pedagang kaki lima.
Gambar yang terlihat diatas merupakan tumpukan sampah dari makanan berplastik yang dijual oleh pedagang kaki lima di sekitar area perdagangan di dekat taman FIS. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran pedagang kaki lima untuk menyediakan kotak sampah sebagai tempat sistem pembungan yang khusus. Sehingga sampah itu berserakan dimana-mana. Terutama di tempat mereka berdagang, mahasiswa atau pembeli pun duduk-duduk di sekitar area perdagangan tersebut, apabila makanan yang mereka makan telah habis maka sampah tersebut di buang di sembarang tempat dikarenakan tidak adanya disediakan kotak sampah oleh para pedagang kaki lima tersebut.
Lama kelamaan sampah tersebut bertumpuk terutama di dalam selokan. Sehingga pada saat hujan turun air selokan tersumbat dan meluap kejalan. Dan hal ini lah yang dapat merusak pemandangan dan kenyamanan, belum lagi bau yang menyengat karena sampah berserakan dimana-mana dan ini juga lah yang menyebabkan  lingkungan kampus UNP menjadi tidak nyaman. Berarti tidak hanya tempat dan pelayanan saja tetapi lingkungan juga termasuk didalamnya dalam menunjang penghasialan pedagang.
Simpulan
 Dari uraian sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan yang berkaitan dengan perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima di lingkungan kampus UNP dalam memanfaatkan aspek ruang untuk berjualan dan kebersihan kampus terhadap adanya pedagang kaki lima.
Persaingan itu merupakan wujud dari rasa takut akan kehilangan tempat yang strategis dan takut para pembelinya atau pelanggan pergi. Sehingga terjadinya konflik atau sedikit perselisihan. Pedagang kaki lima dalam menjual dagangan kepada pembeli dengan cara tersenyum. Tersenyum dalam artian kata ramah, ceria, menyapa, dekat dengan pembeli, dan para pedagang berusaha menawarkan dagangannya dengan bercerita, bergurau, memanggil dan menawarkan. Dengan memberi sikap yang ramah terhadap pembeli dengan cara nyapa atau hanya sekedar tesenyum berharap orang yang didatangi atau lewat akan membeli barang dagangan Yang dijual.
Lokasi merupakan hal yang sangat bernilai ekonomi bagi pedagang kaki lima walaupun  mereka sering digusur akan tetapi mereka tetap bertahan dengan kondisi semula, karena mrnganggap lokasi tersebut strategis. Adanya hubungan timbal balik antara pedagang kaki lima dengan lingkungan tempat mereka berjualan. Lingkungan sangat mempengaruhi dagangan yang mereka jualkan. Apabila dagangan yang mreka jual kotor maka para pembeli pun kurang minat untuk membelinya.  Lingkungan yang bersih juga mempengaruhi penghasilan yang didapat oleh penjual.
Rekomendasi
Dari kesimpulan diatas perilaku sosial ekonomi pedagang kaki lima di lingkungan kampus universitas negeri padang, maka saran yang perlu di sebagai bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang terkait, dalam hal ini kampus UNP berkaitan dengan masalah pedagang kaki lima dalam pemanfaattan ruang dan kebersihan lingkungan dalam menjual barang dagangannya.
1.      Disarankan kepada pihak kampus untuk mengambil kebijakan terhadap pedagang kaki lima yang ada di sekitar kampus UNP.
2.      Hendaknya pedagang kaki lima yang diberi izin oleh pihak kampus, harusnya menjaga kebersihan kampus UNP.

Daftar Pustaka
Damsar. 1997.”Sosiologi Ekonomi”,Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada.
Lew J, Meleong.1997.”Metodologi Penelitian Kualitatif”,Bandung:FPE padjajaran.
Lipsey G,Richard.1990.”Pengantar ilmu Ekonomi”,Jakarta:PT. Rineka Cipta
Didik J,Rachoni.1994.”Ekonomi Informal Perkotaan”,Jakarta:PT. Pustaka LP3ES Indonesia
Emil Salim.1995.”Lingkungan Hidup Dan Pembangunan”,Jakarta:PT. Mutiara Sumber Mulya
Dwidjoseputro D.1990.”Ekologi Manusia dengan Lingkungannya”,Jakarta:PT. Glora Aksara
Marsal, Zul.2009.”Peranan satuan polisi pramong pradja dan satuan koordinasi ketertiban dan keamanan kota (SK4) dalam penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kota padang”.Skripsi.Tidak diterbitkan.Padang:FIS UNP



[1] 55336/2010
Pendidikan Sosiologi-Antropologi
[2] Sektor informal merupakan suatu pemberdayaan khususnya pedagang kaki lima sebagai bagian dari masyarakat yang membutuhkan penanganan tersendiri dari pihak pemerintahyang berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya yang mereka miliki.
[3] Naluri dagang adalah semacam dorongan alamiaah dari dalam diri manusia untuk memikirkan serta menyatakan suatu tindakan, seperti halnya berdagang.

Minggu, 11 Maret 2012

Kebudayaan Folk-Teori Antropologi

1. Kebudayaan Folk
Penelitian terhadap suatu komuniti sebagai suatu satuan holistik. konsep "komuniti" sebagai suatu satuan sosial dengan ciri dasar yang universal sehingga layak di analisis secara khusus, dikembangkan oleh R.Redfield (1897-1958), guru besar Antropologi dari university of Chicago. dari tahun 1926 hingga tahun 1927 ia meneliti sebuah desa keturunan orang indian Aztec yang berbahasa Nahuatl, yaitu desa Pueblo Tepoztlan.
hasil dari penelitian itu adalah sebuah etnografi berjudul Tepoztlan : A Mexican Village : A study of Folk life (1930).
etnografi ini menguraikan mengenai geografi daerah pegunungan Sierra Ajusco, tempat desa Tepoztlan berada, kebudayaan fisik penduduknya, organisasi sosialnya, upacara-upacara Fiesta Santa Maria, upacara sekitar lingkungan hidup, dan upacara kematian, msalah pembagian kerja dan pada akhir dari etnografi itu Redfield mencapai kesimpulan bahwa kebudayaan primitif dan bukan juga suatu kebudayaan kota masa kini, tetapi berada di antara keduanya.
dengan adanya penelitian  ke suku-suku bangsa yang memiliki sejarah perkembangan yang tinggi seperti suku indian Aztec tersebut, telah menyebabkan perkembangannya konsep mengenai kebudayaan antara  tadi yang disebut dengan Folk, yaitu kebudayaan rakyat umum yang berbeda dari kebudayaan primitif yang hingga dasawarsa 1930-an pada umumnya di pelajari para ahli antropolog.
kebudayaan folk oleh Redfield dianggap berada dalam masyarakat petani pedesaan pada umumnya yaitu peasant Society, tetapi juga pada penduduk kota yang bersifat rakyat umum yaitu penduduk yang tidak termasuk "golongan elit" atau yang berkledudukan tinggi. utuk mengetahui pengertian Folk yang sebenarnya Redfield yang di bantu istri dan masiswa nya melakukan penelitian  di antara penduduk berkebudayaan Maya. penelitian itu di laksanakan di 4 tempat yaitu : 1. Merida kota berpenduduk 96.660 jiwa menurut  sensus 1930. dan menurut Redfield layak di sebut City 2. Dzitas kota kecil berpendudukan kurang dari 30.000 orang pada waktu yang sama, yang oleh Redfield di sebut Town 3. Chan kom desa petani yang terbuka , 4. Tusik desa kecil yang terisolasi.
buku kesimpulan umum karangan Redfield berjudul The Folk Culture of Yucatan(1941) membuat perumusan mengenai empat tipe komuniti yang disebut City (kota), Town ( kota kecil) peasant village (desa petani), dan tribal village ( desa terisolasi). secara singkat semua sifat Komperatif itu dapat diringkas menjadi 3 ciri, yaitu ;
1. pengenduran adat-istiadat
2. Sekularisasi
3. individualisasi
redfolk mengenggap bahwa kebudayaan Folk lebih dinamis daripada kebudayaan dalam masyarakat Terisolasi.

2. Komuniti Kecil
redfield beranggapan bahwa kebudayaan Folk dapat di teliti dalam suatu bentuk masyarakat yang disebut Little comunity ( komuniti kecil ). dengan meninjau penelitian tersebut, Redfield membuat abstraksi mengenai 4 sifat yang menjadi latar belakang dari semua komuniti kecil yaitu : distinctiveness, smallnes, homogenity, dan all-providing self-sufficiency. denga kata lain suatu komuniti kecil ;
1. mempunyai suatu identitas yang khas,
2. terdiri dari pendudk dengan jumlah yang cukup terbatas sehingga saling mengenal sebagai individu yang berkepribadian.
3. bersifat seragan dengan diferensiasi terbatas
4. kebutuhan hidup sangat terbatas sehingga semuanya dapat di penuhi sendiri.
redfield juga beranggapan bahwa suatu komuniti kecil adalah bagian yang terintegrasi dari lingkungan alam dimana komuniti kecil itu berada. dengan demikian suatu komuniti kecil merupakan suatu sistem ekologi dengan masyarakat dan kebudayaan penduduk serta lingkungan alam setempat sebagai dua unsur pokok dalam suatu lingkaran pengaruh timbal balik yang mantap. itu pulalah sebabnya mengapa identitas tempat biasanya sangat kuat dal;am pandangan hidup penduduk komuniti kecil sebagai suatu territorially-based field.

Jumat, 09 Maret 2012

Sosiologi Pendidikan

        sosiologi itu muncul pada abad ke-19, dima pada saat itu sosiologi di jadikan sebagai ilmu sosial oleh Durkeim, ilmu sosial itu muncul karena berguna bagi masyarakat pada waktu itu guna memberikan pendidikan bagi masyarakat yang telah mengalami perubahan sosial dan budaya yang terjadi setelah revolusi inggris dan perancis, pendidikan sangat berguna untuk mengembangkan keterampilan masyarakat yang telah mengalami perubahan pada masa inggis dan perancis tersebut.
menurut durkheim pendidkan itu dapat memperbaiki kehidupan masyarakat, dan juga mewujudkan kebersamaan dan rasa solidaritas,  
pendidkan itu bukan hanya bersifat ideal namun, pendidikan itu juga memunculkan berbagai macam persoalan, pendidikan zaman sekarang tidak terlepas dari yang namanya kekuasaan, dimana masalah di dalam pendidikan itu ada 2 yaitu, masalah perubahan kurikulum dan masalah kekuasaan.
dalam sosiologi ada 2 unsur yang sama yaitu oiologi dan pedagogi.
jadi, sosiologi pendidikan itu adalah salah satu cabang dari ilmu pengetahuan sosiologi yang membahas mengenai proses interaksi didalam sistem pendidikan. sebagai contoh; proses interaksi antara guru dan peserta didiknya mempengaruhi proses belajar mengajar.

Sekolah
didalam sekolah terdapat Organisasi dan Sistem, Organisasi adalah, suatu wadah, atau perkumpulan dimana di dalamnya terdapat orang yang saling bekerja sama dan memiliki tujuan bersama, di mana didalamnya terdapat struktur yaitu Kepala, wakil, Sekretaris, bendahara dan lain sbgnya, yang bersifat hierarkisserta memiliki hak, kewajiban, peran , fungsinya mnasing-masing. Sistem adalah satu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur, elemen-elemen yang saling hubungan dan terkait satu sama lainnya.Elemen adalah suatu bagian dari sistem yang harus menjalankan yang telah ditetapkan oleh sekolah tersebut. didalam sekolah tersebut tidak hanya manusia saja yang ada namun juga ada softwere nya, seperti kurikulum, RPP, program belajar mengajar.
sekolah adalah suatu merupakan sistem, dimana sekolah itu adalah menerapkan yang namanya interaksi, atau saling berhubungan, apabila tidak maka tidak akan terciptanya pesrta didik yang berpoitensi, dan apabila salah satu fungsi sekolah itu tidak ada maka akan mempengaruhi atau terhambatnya proses belajar mengajar, dan tidak tercapainya tujuan yang hendak dicapai.   
sekolah sebagai sebuah sistem, sistem harus memiliki fungsi dan perannya masing-masing dalam memnjalankan tugasnya, hal tersebut harus berjalan dengan lancar kalau tidak akan terhambat nya proses belajar-mengajar. selain elemen-elemen di sekolah elemen-elemen yang ada di luar juga aharus berfungsi, seperti orang tua, masyarakat.

Pendidikan
Pendidikan Berasal Dari kata Mendidik yang berarti membuat menjadi terdidik melalui proses belajar.
proses belajar didapat melelui:
1. lingkungan yang terbagi jadi lingkungan fisik (lingkungan alam), lingkungan sosial (lingkunagn masyarakat) yang disebut dengan nonformal, keluaraga merupakan informal,
2. pendidikan formal
3. interaksi
4.pengalaman
siklus belajar: proses belajar direalisasikan meleui pendidikan dengan tujuan terciptanya eksistensi masyarakat  serta mewariskan nilai-nilai dan norma edukatif, berupa ilmu penegtahuan sehingga memperoleh keterampilan serta kemajuan.

fungsi pendidikan yaitu
1. mewujudkan/menghasilkan menusia yang mampu memainkan perannya secara sosial. co:mewujudkan ketertiban tatana sosial
2. transmisi nilai-nilai budaya
kreasi yang bermanfaat uyntuk dirinya dan orang lain
3. mewujudkan integrasi sosial
dimulai dari adaptasi-interaksi-ke asimilasi
4. mewujudkan kontrol sosial
mengontrol didri supaya tidak melakukan tindakan kriminal
5. menghasilakn individu yang bermanfaat bagi masyarakat
tenaga atau alat teknologi yang baru
memperbaiki nasib
berubah untuk jadi lebih baik.

Pengendalian sosial
da 2 hal yaitu Peventif dan Represif,
preventif yaitu sebelum terjadinya, sanksi diberi tahu sebelum terjadinya
yaitu :
1. memberi contoh keteladana kepada siswa mengenai nilai-nilai dan norma-norma
2.transmisi nilai -nilai sosial
nilai-nilai itu di sosialisasikan didalam kehidupan sehari-hari
3. interaksi sosial
tanpa kita sadari melalui lingkungan masyarakat kita dapat memperoleh nilai-nilai melei berinteraksi
4. kegiatan perkumpulan sosial

tujuan pendidikan
1. membuat perubahan
-sosial
-budaya
-ekonomi
-politik
-hukum
2.pembaharuan dalam masyarakat
-inovasi
-renovasi
-rekonsturksi
-retrunisasi
reformasi

2. Represif yaiotu setelah terjadinya, maka diberi sanksi hukuman

Rabu, 07 Maret 2012

mengatasi suntuk

Menghilangkan Suntuk

Rutinitas dan pekerjaan yang monoton seringkali menimbulkan kejenuhan. Dan, itu merupakan hal yang manusiawi, namun meski demikian, kita tak boleh membiarkan keadaan tersebut berlarur-larut. Kejenuhan yang dibiarkan mengendap dapat merusak kualitas kerja serta mengganggu secara psikologis. Berikut kami sampaikan beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi kejenuhan.

Perluas Cakrawala
Perkembangan manusia berlangsung secara terus-menerus, tak peduli berapapun usianya. Otak kita dirancang untuk terus berkembang, sehingga butuh terus ditambahi dengan hal-hal baru. Untuk itu sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan, perluaslah pengetahuan. Belajarlah hal-hal baru tanpa henti. Menimba ilmu tidak harus melalui sebuah instansi, Anda dapat belajar hal-hal baru dari lingkungan sekitar. Bisa berupa ketrampilan baru, membaca koran atau buku-buku, atau hal-hal lainnya.

Buat Tantangan Baru
Seperti saat kita masih anak-anak, setiap kali mendapat mainan baru, hari-hari akan dilewati bergelut dengan barang baru tersebut. Tapi begitu seminggu berlalu, akan mulai tumbuh kebosanan. Tak jauh beda dengan kita orang dewasa dan pekerjaan yang kita geluti. Bedanya dengan anak-anak, sebagai orang dewasa kita dituntut untuk bertahan dan menyesuaikan diri dengan kebosanan itu. Untuk mengatasi hal ini, Anda bisa mencari tantangan baru di luar pekerjaan rutin. Luangkan waktu luar pekerjaan untuk melakukan hal-hal baru guna menstimulasi minat Anda, seperti misalnya ikut Yoga atau hal-hal lain yang belum Anda kuasai.

Membuat Perubahan
Bertemu, melihat dan melakukan hal-hal yang sama dari hari ke hari pastinya membuat kita sangat bosan. Untuk menepis kebosanan tersebut, Anda bisa melakukan perubahan-perubahan pada hal-hal kecil yang Anda jumpai setiap hari. Seperti misalnya, letak meja di kantor, atau mungkin wallpaper di komputer yang Anda gunakan setiap hari, dandanan rambut, atau bahkan rute Anda menuju tempat kerja.

Ubah Bahasa Tubuh
Mungkin bahasa tubuh merupakan hal paling sederhana yang jarang kita perhatikan. Namun, sikap tubuh memiliki efek nyata terhadap suasana hati seseorang. Orang yang merasa bosan biasanya mulai duduk merosot, menekuk wajah dan terlihat muram. Ketika kebosanan mulai menyergap, cobalah untuk duduk tegak dan tebarkan senyum, lalu lihat efeknya pada diri Anda.

Ciptakan Kenyamanan
Setiap orang, secara alamiah menyukai keadaan yang membuatnya nyaman. Suasana yang nyaman mendorong kita untuk selalu senang. Jika Anda penggemar musik, Anda dapat mendengarkan musik kesayangan sembari bekerja. Atau mungkin Anda bisa mengubah ruang kerja sebagai tempat yang nyaman. Bisa juga mencipatkan suasana yang ramah dan penuh canda tawa bersama rekan kerja.

Ambil Libur
Minggu demi minggu berlalu, dan setiap hari kita berkutat dengan rutinitas yang itu-itu saja. Untuk meredakan rasa jenuh, manfaatkan setiap hari Sabtu-Minggu untuk benar-benar menikmati liburan. Tak perlu pergi ke tempat pariwisata, Anda bisa juga berlibur dan bersantai bersama keluarga di rumah. Banyak hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membuat rileks, seperti misalnya nonton film atau mungkin sekedar jalan-jalan ke mall bersama keluarga.

Sabtu, 03 Maret 2012

PARIWISATA DAN KESENIAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Pariwisata  merupakan salah satu sector pembangunan yang saat ini sedang di galakkan oleh pemerintah. Hal ini di sebabkan, karena dengan adanya pariwisata maka segala aspek yang ada di Negara kita ini menjadi lebih berkembang terutama dalam hal kesenian, baik itu kesenian tradisional maupun kesenian modern, dan melalui seni-seni inilah  yang di jadikan sebagai objek wisata dalam sebuah kepariwisataan dapat mendatangkan devisa bagi Negara. Tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia terlihat dengan jelas dalam instruksi Presisen Republik Indonesia No. 9 Thn 1969, khususnya Bab II Pasal 3, yang menyebutkan bahwa “ Usaha-us
aha pengembangan pariwisata di Indonesia bersifat suatu pengembangan “ industry pariwisata” dan merupakan bagian dari usaha pengembangan dan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat dan Negara “.

Berdasarkan Instruksi presiden tersebut, dapat di katakan bahwa tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia adalah :
1.      Meningkatkan pendapatan devisa pada kususnya serta pendapatan Negara dan masyarakat pada umumnya, poerluasan kesempatan kerja, dan mendorong kegiatan-kegiatan industry sebagai  penunjang dan industry industry lainya sebagai sampingan
2.      Memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia
3.      Meningkatkan persaudaraan atau persahabatan nasional dan internasional.

Di samping pengembangan kepariwisataan tersebut, pariwisata di Indonesia tidak terlepas dari potensi yang di miliki oleh Indonesia itu sendiri, Potensi yang di miliki oleh Indonesia itu adalah berupa  keragaman budaya yang menarik yang nantinnya dapat memunculkan minat para wisatawan untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Maka dari itulah untuk menjadikan pariwisata di Indonesia ini penuh dengan warna maka di jadikanlah kesenian sebagai salah satu unsure kebudayaan yang dapat memberikan warna terhadap kepariwisataan di Indonesia.

B.     RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah pokok yang berhubungan dengan pariwisata dan kesenian adalah

1.      Menjelaskan pengertian pariwisata dan kesenian ?
2.      Bagaimana hubungan pariwisata dan kesenian ?
3.      Dampak pariwisata terhadap kesenian sebagai salah satu unsure kebudayaan ?

C.    TUJUAN

Dalam pembuatan makalah ini penulis mempunyai tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum penulis dalam pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Pariwisata. Sedangkan tujuan khusus penulis dalam pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan kepada forum mengenai Pariwisata dan kesenian.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN PARIWISATA DAN KESENIAN

1 . PARIWISATA

            Pariwisata adalah segala kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan. Kata wisata menyangkut pengertian perjalanan, sedangkan pariwisata menyangkut pengertian perjalanan di tambah dengan unsure jasa atau badan usaha yang nantinya dapat melayani para wisatan yang datang ke lokasi wisata seperti adanya jasa trasportasi, akomodasi, catering, hiburan dan pelayanan lainya. Sementara kepariwisataan adalah mengandung aspek perjalanan, badan usaha, dan fungsi pemerintah.

Pariwisata dan kepariwisataan adalah  industry modern yang kini berkembang dengan pesat. Ini semua terbukti, dengan adanya pandangan dunia terhadap kepariwisataan yang memajukan pariwisata itu baik dari segi pembangunan infrastuktur maupun suprastruktur. Hal ini terjadi karena dengan memajukan dan mengembangkan pariwisata maka dapat mendatangkan devisa baik itu bagi Negara maupun bagi masyarakat setempat melalui keuntungan yang bersumber dari wisatawan local, maupun wisatawan mancanegara.

Pada masa tradisional kita tau bahwa pariwisata belum lagi termasuk kedalam  7 unsur kebudayaan dan bahkan belum lagi menjadi sebuah pranata dalam kehidupan masyarakat. Namun berhubungan dengan kebutuhan manusia itu semakin banyak  dan masyarakat semakin maju, maka masuklah pariwisata sebagai sebuah kebutuhan dasar manusia, yang di dalamnya terdapat beberapa aturan yang mengikat segala prilaku masyarakat dalam berwisata. Maka dari itulah semenjak masuknya pariwisata ke dalam unsure-unsur kebudayan , maka pariwisa juga termasuk ke dalam sebuah pranata dalam kehidupan masyrakat, semakin banyaknya masyarakat dan kebutuhanya maka pranta yang muncul juga akan semakin banyak.


2 . KESENIAN

            Sebelum kita membahas lebih mendalam mengenai kesenian ini, lebih baik kita terlebih dahulu mengetahui apa itu kebudayaan ? karena konsep kesenian tidak akan terlepas jauh dari kebudayan suatu suku bangsa. Kebudayaan adalah merupakan suatu hasil cipta karsa, dan karya manusia dalam usaha meningkatkan taraf hidup dan beradaptasi dengan lingkungan.  Batasan ini lebih di tekankan pada kenyataan bahwa manusialah yang mampu menghasilkan kebudayaan, karena manusia merupakan makhluk hidup yang mempunyai akal dan budi. Dari konsep kebudayaan ini,  maka terlahirlah kesenian sebagai salah satu unsure yang terdapat dalam kebudayaan sebagai hasil ciptaan manusia yang di jadikan sebagai objek wisata oleh dunia kepariwisataan guna untuk mendatangkan devisa bagi Negara, tidak hanya bagi Negara saja tetapi juga bagi masyarakat umum yang mengambil andil di dunia kepariwisataan seperti mereka yang berdagang di lokasi wisata dapat mendatangkan keuntungan yang besar, ini semua di sebabkan karena banyaknya pembeli di lokasi wisata. Pembeli itu tidah hanya berasal dari masyarakat local saja tapi juga barasal dari mancanegara.

Kesenian  merupakan salah satu hasil dari ciptaan manusia yang termasuk ke dalam unsure kebudayaan yaitu  seni tari, seni music dan seni rupa yang di perkenalkan kepada para wisatawan melalui adalanya kepariwisataan. Seperti seni tari dan seni music yang di jadikan sebagai atraksi wisata atau objek wisata yang di pentaskan, guna untuk memperkenalkan kebudayaan kita kepada para wisatawan local maupun mancanegara.

Negara Indonesia adalah Negara kita yang kaya akan keragaman budaya, sehingga dapat menggugah hati para wiasatawan baik itu local maupun mancanegara untuk berkunjung ke Negara kita dengan tujuan untuk menikmati atraksi-atraksi wisata yang tersedia di setiap tempat objek wkisata . Sehingga dengan banyaknya wisatawan yang datang maka akan bisa membawa keuntungan besar bagi Negara kita sendiri. Maka dari itulah di butuhkan peran bagi kita semua sebagai masyarakat penghuni Negara Indonesia di harapkan mampu untuk melestarikan kebudayaan kita baik itu kebudayaan tradisional, maupun kebudayaan moderen.


B.     HUBUNGAN PARIWISATA DAN KESENIAN

Pariwisata dan seni adalah merupakan dua kegiatan yang saling memiliki keterkaitan yang sangat kuat, dimana kalau tidak adanya pariwisata maka seni sebagai salah satu unsure kebudayaan yang di jadikan sebagai sebuah objek wisata atau atraksi wisata tidak akan pernah berkembang.  Hal ini disebabkan karena pariwisata adalah sebuah wadah atau tempat dimana seni tersebut di kembangkan contohnya saja seni tari, seni music dan seni rupa yang di kembangkan dalam sebuah dunia kepariwisataan dalam bentuk pementasan, guna untuk memperkenalkan salah satu unsure kebudayaan kita ke masyarakat luas atau mancanegara. Selain berguna untuk memperkenalkan kebudayaan kita kepada pihak lain, pertunjukan seni ini juga bisa mendatangkan keuntungan devisa bagi Negara dan masyarakat setempat. Semakin lama wisatawan  menikmati dan tinggal di Negara kita, maka semakin banyak lah keuntungan yang kita peroleh dari wisatawan tersebut. Maka dari itulah kita sebagai penghuni Negara kita sendiri, kita harus melestarikan kebudayaan kita dan jangan membiarkan kebudayaan kita itu mati begitu saja. Kalau salah satu unsure kebudayaan kita sudah tidak di fungsi kan lagi, maka akan mengurangi minat para wisataan untuk berkunjung ke Negara kita.

Sebelum suatu kesenian atau unsure kebudayaan itu di masukkan ke dalam dunia kepariwisataan maka terlebih dahulu kita menanamkan nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat yaitu melalui pendidikan, karena dengan pendidikanlah pola pikir dan cara pandang seseorang dapat di bentuk. Bila pengembangan kesenian atau unsure kebudayaan dalam dunia kepariwisataan  tidak di dukung oleh sector pendidikan maka unsure kebudayaan yang berkembang itu akan kehilangan esensinya, identitas, jati diri dan hakekatnya. Contonya saja pertunjukan seni tari tradisional, yang dahulunya di gunakan sebagai sebuah upacara adat atau ritual ke agamaan yang bersifat suci atau sacral, namun sekarang setelah masuk dan berkembangnya kesenian ke dalam dunia kepariwisataan menjadikan perubahan fungsi dan makna dari seni tersebut. Maka dari itulah sebelum kita merekrut atau memasukan kesenian ke dalam dunia kepariwisataan sebagai salah satu objek wisata atau atraksi wisata maka di perlukanlah penanaman nilai, baik itu nilai moral, social, dan agama melalui dunia pendidikan. Kalau kita sudah memiliki nilai-nilai dalam diri kita, maka insyaalalh seni yang kita jadikan sebagai objek wisata, tidak akan beralih fungsi atau maknanya.

C.    DAMPAK PARIWISATA TERHADAP KESENIAN SEBAGAI UNSUR KEBUDAYAAN

Pariwisata sebagai suatu fenomena yang terdiri dari  berbagai aspek, tentu akan berpengaruh terhadap aspek-aspek yang ada di dalamnya, termasuk kesenian sebagai unsure kebudayaan yang merupakan salah satu aspek pariwisata yang di jadikan sebagai sebuah objek wisata atau atraksi wisata bagi dunia kepariwisataan, dan tentu saja pariwisata ini akan membawa dampak terhadap seni atau budaya yang bersangkutan, tidak hanya membawa dampak positif terhadap seni atau budaya di Negara kita, namun juga membawa dampak negative.

Berikut ini dampak positif pariwisata terhadap seni sebagai salah satu unsure budaya :

1.      Dengan adanya pariwisata yang menjadikan seni sebagai suatu objek wisata maka dapat mengakibatkan terjadinya akulturasi budaya atau masuknya kebudayaan baru ke Negara kita, tanpa meninggalkan kebudayaan lama. Hal ini terjadi karena adanya interaksi masyarakat local dengan wisatawan mancanegara.
Contohnya : peniruan sikap,tingkah kalu dan pakaian dari para wisatawan yang datang.
2.      Dengan adanya pariwisata maka kita dapat memperkenalkan salah satu unsure dari kebudayaan asli yang kita miliki yaitu kesenian kepada para wisatawan sehingga menjadi lebih berkembang dari pada sebelumnya.
3.      Dengan adanya pariwisata yang menjadikan kesenian sebagai objek atau ataraksi wisata, maka dapat menumbuhkan minat generasi muda untuk melestarikan kebudayaan mereka sendiri terutama dalam bidang seni, mereka berusaha menjadikan seni itu sebagai suatu atraksi yang sangat menarik para wisatawan asing dalam menyaksikan pertunjukan tersebut.
4.      Dengan adanya pariwisata dapat memunculkan lapangan kerja baru yang dapat  menambah keuntungan bagi masyarakat yang berada di lokasi wisata dan bisa membantu ekonomi keluarga.
5.      Dengan adanya pariwisata yang menjadikan kesenian sebagai objek wisata, dapat mengakibatkan terjadinya tukar menukar cerita mengenai kebudayaan antara wisatawan dengan masyarakat local
Maksutnya : Wisatawan yang datang ke lokasi wisata dia berinteraksi dengan masyarakat local dan menanyakan mengenai kebudayaan yang ada di lokasi wisata ini, kemudian masyarakat local memberitahukan kebudayaan yang ada dalam wisata tersebut, begitu juga  dengan masyarakat local pada saat dia berinteraksi dengan wisatawan yang datang  dia juga menanyakan objek-objek wisata yang ada di daerah asal wisatawan berada.

Sedangkan dampak negative pariwisata terhadap seni sebagaiunsur kebudayaan adalah:

1.      Disamping pariwisata dapat mengembangkan dan melestarikan kebudayaan, sering juga terjadi sebaliknya yaitu tereksploitasinya kebudayaan secara berlebihan demi kepentingan pariwisata, tentu hal ini akan berdampak negative terhadap perkembangan kebudayaan, ini sering terjadi karena komersialisasi kebudayaan dalam pariwisata artinya memfungsikan pola-pola kebudayaan seperti kesenian, tempat-tempat sejarah, adat istiadat, dan monument-monumen di luar fungsi utamanya demi kepentingan pariwisata.
2.      Dengan adanya pariwisata yang menjadikan kesenian sebagai objek wisata dapat menyebabkan perubahan fungsi terhadap makna kesenian tersebut atau terjadinya penitisan makna, yang dulunya sacral atau suci, tapi sekarang setelah di pertontonkan di setiap acara atau festival yang dianggap bisa memperkrnalkan kebudayaan kita kepada orang lain tapi di balik itu malah menghilangkan fungsi dan makna dari kebudayaan itu sendiri, yang biasanya hanya di lakukakan pada saat upacara atau ritual saja namun sekarang sudah di pertontonkan pada semua khalayak umum.





BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Berdasarkan makalah yang kami buat, kami dapat menyimpulakan bahwa antara pariwisata dan kesenian adalah dua kegiatan yang saling berkaitan satu sama lainya. Dimana pariwisata membutuhkan kesenian sebagai salah satu unsure kebudayaan yang dapat di jadikan sebagai objek wisata, atraksi wisata atau daya tarik wisata agar daerah wisata rame di kunjungi oleh para wisatawan, baik itu wisatawan local maupun wisatawan mancanegara.
Dan begitu juga dengan kesenian yang menjadikan pariwisata sebagai salah satu tempat untuk seni itu berkembang dan di kenal oleh banyak orang, karena tanpa adanya dunia kepariwisataan maka seni sebagai salah satu budaya Negara kita mungkin tidak di kenal oleh orang, jika tidak di kenal oleh orang itu menandakan kebudayaan kita tidak berkembang dan lama-kelamaan budaya yang kita ciptakan itu akan hilang atau mati.

B.     SARAN

       Setelah kita mengetahui kalau pariwisata itu berkaitan dengan kesenian, yang membuktikan bahwa tanpa adanya pariwisata maka kesenian sebagai unsure kebudayaan tidak akan berjalan, begitu juga dengan pariwisata, tanpa adanya kesenian sebagai objek atau atraksi wisata yang akan di kunjungi oleh para wisatawan, maka daerah wisata tersebut akan sepi di kunjungi oleh para wisatawan, karena menurut mereka tidak ada atraksi yang bisa membuat mereka tertarik.
Maka  kami menyarankan, kita sebagai generasi kedepanya agar kebudayaan kita tetap lestari kita harus menjaganya, jangan sampai kebudayaan kita yang dahulunya sacral atau suci hilang begitu saja karena di masukan sebagai sebuah objek wisata, Selain itu kita juga harus mampu untuk menempatkan unsure kebudayaan yang mana yang pantas untuk di jadikan sebagai objek wisata.